
Para ilmuwan jurusan Biologi di Salk Institute, San Diego telah mengembangkan obat yang telah terbukti untuk meningkatkan daya ingat dan memperlambat tumbuhnya penyakit Alzheimer pada seekor tikus tua. Dikenal sebagai J147, obat ini kemungkinan besar dapat memberikan bentuk baru pengobatan untuk penyakit Alzheimer pada manusia.
Berdasarkan data dari Asosiasi Alzheimer, lebih dari lima juta orang Amerika hidup dengan penyakit Alzheimer. Hal ini tercatat sebagai penyebab utama kematian, peringkat ke enam, di Amerika Serikat dan merupakan salah satu penyakit yang tidak dapat dicegah, disembuhkan atau bahkan diperlambat. Sampai sekarang, belum ada modifikasi obat untuk penyakit Alzheimer. Obat yang ditawarkan saat ini hanya memiliki manfaat jangka pendek dan tidak mengatasi penurunan fungsi otak yang menghapus memori.
Marguerite Prior, penulis penelitian mengatakan J147 merupakan senyawa baru yang menarik, karena benar-benar memiliki potensi kuat untuk menjadi terapi penyakit Alzheimer dengan memperlambat perkembangan penyakit dan meningkatkan daya ingat setelah pengobatan jangka pendek.
Kecenderungan industri farmasi sebelumnya difokuskan pada jalur biologis yang melibatkan pembentukan deposit protein yang mencirikan Alzheimer. Namun, tim peneliti Salk menggunakan neuron hidup yang tumbuh di laboratorium untuk menguji apakah senyawa sintetik berdasarkan produk yang berasal dari tanaman mampu melindungi sel-sel otak terhadap beberapa gejala penuaan.
J147 mempengaruhi beberapa proses seluler yang terkait dengan penyakit Alzheimer termasuk peningkatan protein yang melindungi neuron dari hal-hal yang beracun. Protein ini juga membantu neuron baru tumbuh dan terhubung dengan sel otak lain dan terlibat dalam pembentukan memori. Hal ini penting karena hasil pembedahan mayat penderita Alzheimer menunjukkan tingkat normal proteinnya lebih rendah dari tingkat yang biasanya.
Kemampuan yang besar untuk melindungi sel-sel saraf membuat para peneliti semsakin percaya bahwa J147 mungkin efektif untuk mengobati gangguan neurologis lainnya seperti penyakit Parkinson, Huntington, amyotrophic lateral sclerosis (ALS) dan stroke.
Meskipun J147 tampak aman pada tikus tetap masih dibutuhkan uji klinis pada manusia.
Credit : http://www.tempo.co
0 komentar:
Posting Komentar